√ Pengertian Struktur Modal

Diposting pada

Pengertian Struktur Modal

Pengertian Struktur Modal

Struktur Modal ini merupakan perimbangan atau perbandingan antara modal asing itu dengan modal sendiri. Modal asing di dalam hal ini merupakan suatu utang jangka panjang atau pun juga jangka pendek. Sedangkan untuk modal sendiri terbagi atas laba ditahan serta juga penyertaan kepemilikan perusahaan.

Struktur modal yang optimal ini merupakan struktur modal yang kemudian mengoptimalkan keseimbangan antara risiko serta juga pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham. Untuk hal itu, di dalam penetapan struktur modal suatu perusahaan perlu untuk mempertimbangkan segala macam variabel yang memengaruhinya.

Struktur modal ini merupakan suatu masalah yang sangat penting bagi sebuah perusahaan disebabkan karna baik buruknya struktur modal tersebut tentu akan memiliki efek langsung terhadap kondisi atau posisi finansial perusahaan, terutama yakni dengan adanya utang yang sangat besar itu tentu akan memberikan suatu beban kepada perusahaan.


Pengertian Struktur Modal Menurut Para Ahli

Pengertian-Struktur-Modal-Menurut-Para-Ahli

Untuk dapat mengerti lebih dalam mengenai Struktur Modal ini maka kita dapat merujuk pada pendapat beberapa para ahli, diantaranya sebagai berikut :

  • Menurut J. Fred Weston dan Thomas E Copeland (1996)

    mengatakan bahwa struktur modal ini merupakan suatu pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen, serta juga modal pemegang saham.


  • Menurut Keown et.al (2000)

    struktur modal ini merupakan paduan atau pun juga kombinasi sumber dana jangka panjang yang dipakai oleh suatu perusahaan.


  • Menurut Farah Margaretha (2004)

    struktur modal kemudian menggambarkan pembiayaan permanen suatu perusahaan yang terdiri atas utang jangka panjang serta juga modal sendiri.


  • Menurut Halim (2007:78)

    Struktur modal ini merupakan perimbangan jumlah hutang jangka pendek yang sifatnya ini tetap, saham preferen, hutang jangka panjang, serta juga saham biasa. Di dalam teori struktur modal tersebut juga kemudian dinyatakan tentang apakah perubahan struktur modal tersebut kemudian berpengaruh atau juga tidak terhadap nilai suatu perusahaan, dengan asumsi bahwa keputusan investasi serta juga kebijakan dividen itu tidak berubah. Apabila ada pengaruhnya, berarti struktur modal yang terbaik, tetapi apabila tidak terdapat pengaruhnya, berarti tidak ada juga struktur modal yang terbaik.


Tujuan Struktur Modal

Tujuan-Struktur-Modal

Tujuan manajemen struktur modal ialah mengolaborasikan sumber dana permanen yang digunakan suatu perusahaan di dalam operasionalnya yang dapat atau bisa memaksimalkan perusahaan tersebut. Pencarian struktur modal yang optimal ini ialah suatu pekerjaan yang sangat sulit, disebabkan karna adanya konflik yang mengarah kepada biaya agensi. Konflik lama itu terjadi antara pemegang saham serta juga pemegang obligasi di dalam penetapan struktur modal optimal suatu perusahaan. Maka untuk dapat mengurangi kemungkinan manajemen menanggung risiko berlebihan atas nama pemegang saham, maka kemudian perlu untuk memasukkan beberapa batasan protektif.


Faktor yang mempengaruhi struktur modal

Faktor-Struktur-Modal

Terdapat beberapa faktor yang kemudian dapat atau bisa mempengaruhi struktur modal, diantaranya sebagai berikut :

Struktur aktiva (tangibility)

Sebagian dari banyak perusahaan itu kemudian menanamkan modalnya pada aktiva tetap yang mengutamakan pada terpenuhinya modal dari modal permanen ialah modal sendiri, sementara utang itu sifatnya sebagai pelengkap. Semakin besar aktiva perusahaan yaitu aktiva lancar, maka akan cenderung mengoptimalkan terpenuhinya dari kebutuhan dana utang. Hal tersebut yang menunjukkan adanya pengaruh dari struktur aktiva di struktur modal perusahaan.


Growth opportunity

Ini adalah sebuah kesempatan perusahaan di dalam menjalankan investasi dalam hal yang menguntungkan. Teori agensi kemudian mengilustrasikan hubungan negative antara leverage serta opportunity. Yakni perusahaan cenderung melewatkan kesempatan di dalam hal berinvestasi yang menguntungkan.


Ukuran perusahaan (form size)

Perusahaan besar itu lebih melakukan diversifikasi usaha banyak dibanding dengan perusahaan kecil. Oleh sebab itu, memungkinkan kecilnya kegagalan di saat melaksanakan usaha/ kebagkrutan. Perusahaan tersebut kerap dijadikan sebagai indikator ukuran dari terjadinya kebangkrutan perusahaan. Yang mana perusahaan dengan ukuran lebih besar inilah yang dipandang lebih mampu untuk menghadapai krisis usahanya.


Profitabilitas

Perusahaan dengan profit unggul tentu kemudian mempunyai dana internal lebih banyak dibanding itu dengan profit rendah. Perusahaan dengan tingkat tinggi pengembaliannya kemudian akan berinvestasi memakai utang relative kecil. Tingkat untuk pengembalian tinggi mungkin didalam membiayai sebagian besar keperluannya pendanaan dengan menggunakan dana dengan internal. Hal tersebut kemudian yang menunjukkan profit juga akan mempengaruhu struktur modal.


Risiko bisnis

Risiko bisnis bisa atau dapat mempersulit perusahaan di dalam menjalankan pendanaan eksternalnya, jadi secara teori ini hal ini akan mempengaruhi pada levereage perusahaan.


Struktur Modal Sasaran

Struktur-Modal-Sasaran

Struktur modal sasaran ini merupakan kombinasi antara utang saham preferen, serta juga saham ekuitas yang dipakai suatu perusahaan untuk merencanakan mendapatkan modal.
Kebijakan struktur modal ini kemudian melibatkan adanya suatu pertukaran antara risiko serta pengembalian. Risiko yang lebih tinggi yang kemudian cenderung kemudian akan menurunkan harga saham, tetapi ekspektasi tingkat pengembalian yang lebih tinggi itu kemudian akan menaikkannya. Oleh sebab itu, struktur modal yang optimal itu harus mencapai suatu keseimbangan antara risiko serta juga pengembalian sehingga dapat atau bisa memaksimalkan harga saham perusahaan.


Faktor Struktur Modal Sasaran

4 faktor utama yang kemudian memengaruhi keputusan struktur modal sebagai berikut :

  1. Risiko bisnis,
  2. Posisi perpajakan,
  3. Fleksibilitas keuangan,
  4. Konservatisme atau keagresifan manajemen.

Risiko Bisnis dan Keuangan

Risiko-Bisnis-dan-Keuangan

Risiko Bisnis ini merupakan tingkat risiko yang inheren di dalam operasi perusahaan apabila perusahaan tersebut tidak mempergunakan utang. Perusahaan tersebut kemudian akan memiliki risiko bisnis yang kecil apabila permintaan ini kemudian akan produk yang dihasilkannya stabil, Apabila harga-harga input serta juga produknya tetap relatif konstan, Apabila perusahaan tersebut bisa atau dapat menyesuaikan harga-harganya yakni dengan bebas apabila terjadi peningkatan biaya, serta apabila sebagian besar biayanya itu merupakan biaya variabel sehingga akan turun apabila penjualan menurun. Hal-hal yang lain kemudian diangap sama, semakin rendah risiko bisnis sebuah perusahaan, maka kemudian semakin tinggi rasio utang optimalnya.


Faktor Risiko Bisnis

Risiko bisnis tergantung pada sejumlah faktor, diantaranya :

  1. Variabilitas permintaan,
  2. Variabilitas harga jual,
  3. Variabilitas biaya input,
  4. Kemampuan di dalam menyesuaikan harga output di dalam perubahan pada biaya input,
  5. Kemampuan di dalam mengembangkan produk baru pada waktu yang tepat serta juga efektif dalam hal biaya, eksposur risiko asing,
  6. Komposisi biaya tetap: leverage operasi (leverage operasi ini merupakan suatu tingkat sampai sejauh mana biaya-biaya tetap tersebut dipakai di dalam operasi sebuah perusahaan

Teori Struktur Modal

Teori-Struktur-Modal

Terdaot sejumlah teori yang menyangkut mengenai struktur modal, penjelasannya sebagai berikut :

1. Teori pendekatan tradisional

Pendekatan tradisional ini kemudian menyatakan bahwa akan ada struktur modal itu dengan optimal. Maksudnya struktur modal tersebut memiliki pengaruh pada nilai perusahaan, yang mana struktur modal tersebut dapat atau bisa berubah-ubah supaya bisa didapatkan nilai perusahaan optimal.


2. Teori pendekatan Modigliani & miller

Teori ini kemudian dibagi menjadi dua :

a. Teori MM tanpa pajak

Teori struktur modal pertama ini merupakan teori Modigliani& miller. Pendapat mereka tentang struktur modal adalah tidak relevan atau pun tidak berpengaruh pada nilai suatu perusahaan. Kemudian ia mengajukan asumsi di dalam membangun teori mereka, diantaranya sebagai berikut :

  1. Tanpa agency cost
  2. Tanpa pajak
  3. Investor bisa berutang yakni dengan suku bunga sama pada dari perusahaan
  4. Investor mempunyai informasi serupa manajemen megnenai prospek perusahaan pada masa depannya
  5. Tanpa biaya kebangkrutan
  6. EBIT tanpa adanya pengaruh penggunaan utang
  7. Para investor ialah price-takers
  8. Apabila mengalami kebangkrutan, maka aset itu dijual harga pasar

b. Teori MM dengan pajak

Teori tanpa pajak yang kemudian dianggap tidak realistis ini lalu ia memasukkan pajak di dalam teorinya. Pajak dibayarkan untuk pemerintah ini maksudnya menjadi aliran kas keluar. Utang dapat atau bisa dipakai guna menghemat pajak sebab bisa atau dapat digunakan menjadi pengurang pajak.


3. Teori trade-off pada struktur modal

Menurut pendapatnya yang kemudian diungkapkan oleh myers (2001) ialah, “perusahaan berutang itu sampai di dalam tingkat utang tertentu, yang mana penghematan pajak dari tambahan utang tersebut seperti pada biaya kesulitan keuangan”.

Penentuan trade-off theory di dalam struktur modal optimal itu dengan menggunakan faktor antara biaya keagenan, pajak serta juga biaya kesulitan, namun tetap mempertahankan sebuah asumsi symmetric information dan efesiensi pasar menjadi imbangan serta juga manfaat pemakaian utang. Dengan tingkat utang yang optimal tentu kemudian tercapailah saat menghemat pajak di dalam mencapai jumlah maksimal pada biaya kesulitan.


4. Teori pecking order

Teori ini kemudian menjelaskan kenapa perusahaan tersebut mempunyai tingkat keuntungan lebih tinggi justru memiliki tingkat utang kecil. Spesifiknya perusahaan mempunyai urutan preferensi pada pemakaian dananya.

Scenario urutannya ialah  sebagai berikut :

  1. Perusahaan memiliki pandangan internal
  2. Perushaaan menghitung target dari rasio pembayaran dengan berdasarkan perkiraan kesempatan investasi.
  3. Adanya kebijakan konstan yang bergabung fluktuasi serta juga kesempatan berinvestasi tanpa prediksi sehingga aliran kas tersebut menjadi lebih besar daripada pengeluaran investasi.
  4. Apabila di dalam pandangan eksternal dibutuhkan, maka perusahaan kemudian mengeluarkan surat berharganya yang teraman dulu.

5. Teori asimetri dan signaling

Jadi, teori ini kemudian menyatakan bahwa di dalam pihak yang berhubungan perusahaan tidak mempunyai informasi sama megnenai prospek serta juga risiko perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi lebih daripada pihak lain. Teori ini kemudian dibagi dua, diantaranya :

  1. Myers serta majluf : Menurutnya terdapat asimetri informasi antara pihak luar itu dengan manajer.
  2. Signaling : Ia kemudain mengembangkan modal yang mana struktur modal itu merupakan signal penyampaian manajer ke pasar.

6. Teori keagenan (agency approach)

Dengan pendekatan ini, struktur modal tersebut kemudian tersusun untuk mengurangi sebuah konflik yang berkelompok kepentingan saja. Untuk kemuydian menajalankan perhitungan struktur modal, perusahaan tersebut harus memakai software akuntansi online seperti halnya jurnal.


Komponen Struktur Modal

Komponen-Struktur-Modal

Menurut Riyanto (2008:227) terdapat komponen struktur modal yang tersusun atas modal asing serta juga modal sendiri, Dibawah ini merupakan penjelasan lengkapnya.

Modal Asing

Modal asing atau pun utang ini merupakan sebuah modal yang asalnya itu adalah dari luar perusahaan yang sifatnya itu hanya sementara bekerja pada perusahaan serta juga untuk perusahaan yang terkait modal tersebut merupakan hutang yang hingga waktu yang kemudian tentu harus dibayar kembali.

Pada saat pengambilan keputusan maka akan pemakaian utang tersebut harus dipertimbangkan besarnya biaya tetap yang timbul dari utang di dalam bentuk bunga yang akan menyebabkan semakin tingginya leverage keuangan serta juga semakin tidak pastinya tingkat pengembalian untuk para pemegang saham biasa. Modal asing atau utang tersebut kemudian bisa dibedakan menjadi tiga jenis yakni berikut ini:

  1. Utang Jangka Pendek (Short-term Debt)
    Utang jangka pendek ini adalah modal asing yang pengembalian waktunya paling lama ialah satu tahun. Beberapa besar utang jangka pendek ini terdiri atas kredit perdagangan yakni kredit yang dibutuhkan untuk dapat atau bisa terselengaranya perusahaan.
  2. Utang Jangkah Menengah (Intermediate-term Debt)
    Utang jangka menengah ini adalah utang yang jangka pengembalian waktunya lebih dari satu tahun atau kurang dari 10 tahun. Utang jangka menengah ini kemudian dibagi menjadi dua yakni Term Loan dan Leasing
    1. Term Loan ini merupakan suatu kredit usaha dengan umur lebih dari satu tahun serta juga kurang dari 10 tahun.
    2. Leasing ini merupakan suatu alat atau cara untuk memperoleh servis dari sebuah aktiva tetap yang pada dasarnya ini adalah sama seperti halnya apabila kita melakukan penjualan obligasi untuk kemudian memperoleh servis serta hak milik atas aktiva tersebut, yang kemudian membedakan pada leasing ini tidak diikuti dengan hak milik.
  3. Utang Jangka Panjang (Long-term Debt)
    Utang jangka panjang ini ialah sebuah utang yang pada jangka waktu pengembaliannya itu sangat panjang, biasanya itu lebih dari 10 tahun. Bentuk dari utang jangka panjang diantaranya seperti pinjaman obligasi serta juga  pinjamam hipotek.

Modal Sendiri

Modal sendiri atau pun juga ekuitas ini merupakan modal yang asalnya dari pemilik perusahana serta juga ditanam dalam perusahaann itu dalam jangka waktu yang juga tidak menentu lamanya. Modal sendiri ini kemudian diharapkan tetap berada di dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak memiliki batas, sedangkan untuk modal pinjaman memiliki jatuh tempo. Di dalam suatu perusahaan modal sendiri bisa atau dapat dibedakan di dalam beberapa jenis, antara lain:

  1. Modal Saham
    Modal saham ini adalah sebuah tanda bukti pengembalian bagian atau juga peserta di dalam sebuah perusahaan. Terdapat jenis-jenis dari saham yakni saham biasa (common stock), kemudain  saham preferen (prefed stock), saham kumulatif (cummulative prefered stock) serta lain sebagainya.
  2. Cadangan
    Cadangan yang dimaksud disini ialah sebagai cadangan yang dibuat dari pendapatan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama pada rentang waktu yang lalu atau juga dari tahun yang berjalan. Cadangan yang masuk di dalam modal sendiri diantaranya ialah seperti cadangan modal kerja, cadangan ekspansi, cadangan selisih kurs, cadangan untuk kemudian menampung hal atau peristiwa yang tidak diduga sebelumnya (cadangan umum)
  3. Laba Ditahan
    Keuntungan yang didapat oleh sebuah perusahaan itu dapat atau bisa beberapanya dibayarkan ialah sebagai dividen serta beberapanya ditahan oleh perusahaan. Apabila perusahaan menahan keuntungan tersebut telah atau sudah dengan tujuan tertentu, maka kemudian dibuatlah cadangan sebagaimana yang sudah atau telah diuraikan. Apabila perusahaan tersebut belum mempunyai tujuan tertentu mgenani pemakaian keuntungan tersebut, maka keuntungan tersebut merupakan sebuah keuntungan yang ditahan.

Contoh Struktur Modal

contoh-struktur-modal contoh-struktur-modal1 contoh-struktur-modal2 contoh-struktur-modal3 contoh-struktur-modal4 contoh-struktur-modal5 contoh-struktur-modal6 contoh-struktur-modal7 contoh-struktur-modal8

Demikianlah penjelasan mengenai Pengertian Struktur Modal, Komponen, Teori, Tujuan, Struktur, Faktor dan Contohnya, semoga apa yang diuraikan dapat bermanfaat untuk anda. Terima kasih

Lihat Juga  √ Pengertian Jaringan Ikat, Ciri, Fungsi, Letak, Komponen & Jenisnya
Lihat Juga  √ Pengertian Eudaemonisme, Dampak, Macam, Ciri dan Contohnya
Lihat Juga  √ Pengertian ERP, Karakteristik, Manfaat, Keuntungan dan Contohnya